Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Mahasiswi PAI FTIK Gelar Diskusi Mandiri, Perdalam Metode Pembelajaran di Luar Kelas

WhatsApp Image 2026-04-06 at 14.44.58
Berita

Mahasiswi PAI FTIK Gelar Diskusi Mandiri, Perdalam Metode Pembelajaran di Luar Kelas

Purwokerto, (06/04/2026) – Sejumlah mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), menunjukkan semangat akademik dengan menggelar diskusi mandiri di luar jam perkuliahan. Kegiatan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari materi perkuliahan tentang metode pembelajaran yang telah mereka terima sebelumnya, sekaligus menjadi upaya konkret dalam memperkuat pemahaman sebagai calon pendidik.

Dalam suasana ruang kelas yang sederhana, tiga mahasiswi tampak aktif berdiskusi di depan papan tulis. Salah satu di antaranya memaparkan konsep yang dituliskan, sementara dua lainnya menyimak dan terlibat dalam dialog kritis. Topik yang mereka bahas mengarah pada konsep deep learning dalam pembelajaran, yakni pendekatan yang menekankan pemahaman mendalam, reflektif, dan bermakna bukan sekadar hafalan materi.

Diskusi ini tidak bersifat formal, melainkan lahir dari kesadaran akademik mahasiswa itu sendiri. Setelah mengikuti perkuliahan, mereka merasa perlu mengulang, mendalami, dan mengontekstualisasikan kembali materi agar lebih mudah dipahami dan siap diterapkan dalam praktik pembelajaran di masa depan. Inisiatif ini mencerminkan karakter mahasiswa FTIK yang tidak hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga untuk menginternalisasi dan mengamalkan ilmu.

Salah satu mahasiswi mengungkapkan bahwa diskusi semacam ini sangat membantu dalam memperjelas konsep yang belum sepenuhnya dipahami saat perkuliahan berlangsung. “Materi metode pembelajaran itu cukup kompleks. Dengan diskusi, kita bisa saling melengkapi pemahaman, bahkan mengaitkannya dengan praktik mengajar di kelas nantinya,” ujarnya. Sebagai mahasiswa PAI, penguasaan metode pembelajaran menjadi hal yang krusial. Tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks pendidikan Islam yang menekankan nilai, karakter, dan spiritualitas. Oleh karena itu, diskusi mandiri ini menjadi ruang penting untuk mengasah kemampuan pedagogik sekaligus memperkuat integrasi antara ilmu dan nilai keislaman.

Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat transformasi pendidikan di FTIK yang mendorong mahasiswa untuk aktif, kritis, dan reflektif. Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan menuntut partisipasi aktif mahasiswa dalam membangun pengetahuan. Diskusi kelompok menjadi salah satu strategi efektif untuk menciptakan pembelajaran yang lebih hidup dan bermakna. Lebih jauh, praktik ini mencerminkan tumbuhnya budaya akademik yang positif di lingkungan FTIK. Mahasiswa tidak hanya bergantung pada perkuliahan formal, tetapi juga memanfaatkan waktu luang untuk belajar secara mandiri dan kolaboratif. Hal ini menjadi indikator bahwa proses pendidikan berjalan secara utuh, tidak terbatas pada ruang dan waktu perkuliahan.

Dalam konteks pendidikan Islam, semangat menuntut ilmu tidak mengenal batas waktu. Diskusi yang dilakukan para mahasiswi ini menjadi cerminan dari nilai tersebut bahwa belajar adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesungguhan dan keikhlasan. Dengan demikian, mereka tidak hanya mempersiapkan diri sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu membawa nilai-nilai kebaikan dalam dunia pendidikan.

Kedepan, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi budaya yang terus berkembang di kalangan mahasiswa FTIK. Tidak hanya memperkuat pemahaman akademik, tetapi juga membentuk karakter calon guru yang aktif, mandiri, dan bertanggung jawab. Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya dan kualitas itu mulai dibentuk dari kebiasaan belajar yang sederhana namun konsisten, seperti diskusi mandiri di luar kelas.