Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Moderasi atau Polarisasi? FTIK dan MUI Banyumas Tegaskan Moderasi Beragama Bagi Pelajar

DSC00318
Berita

Moderasi atau Polarisasi? FTIK dan MUI Banyumas Tegaskan Moderasi Beragama Bagi Pelajar

Purwokerto (12/02/2026) — Di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi digital yang kerap memunculkan polarisasi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto mengambil langkah strategis dengan menggelar Seminar Penguatan Moderasi Beragama bagi Pelajar, Kamis, 12 Februari 2026 pukul 10.30 WIB.

Seminar yang dilaksanakan di Meeting Room K.H. A. Wahid Hasyim tersebut Mengusung tema besar “Moderasi Beragama sebagai Etos Pelajar: Merawat Iman, Akhlak, dan Kebinekaan”, dan dihadiri oleh pimpinan fakultas, para siswa dari berbagai daerah, serta tokoh keagamaan Kabupaten Banyumas. Selain itu seminar ini bukan sekadar forum akademik, tetapi ruang refleksi mendalam tentang arah pembentukan generasi Muslim di masa depan serta menjadi wujud nyata kolaborasi kelembagaan antara FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas dalam memperkuat moderasi beragama di kalangan pelajar.

Kehadiran Ketua MUI Kabupaten Banyumas, Drs. KH. Taefur Arofat, M.Pd.I, menunjukkan sinergi antara dunia akademik dan otoritas keagamaan dalam membangun narasi keislaman yang inklusif dan konstruktif. Kolaborasi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi merupakan bagian dari komitmen bersama dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Banyumas dan Indonesia secara umum. FTIK sebagai institusi pendidikan dan MUI sebagai representasi otoritas keagamaan daerah bertemu dalam satu visi yakni membina generasi muda agar memiliki pemahaman Islam yang moderat, toleran, dan berkomitmen kebangsaan.

Suasana ruangan terasa hidup. Para pelajar mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, terutama ketika isu-isu tentang identitas, toleransi, dan peran generasi muda dalam menjaga harmoni bangsa dibahas secara terbuka.

Dekan FTIK, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., memberikan pemaparan materi yang menjadi fondasi utama seminar. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa moderasi beragama tidak boleh berhenti pada slogan atau wacana normatif, tetapi harus menjadi etos pelajar nilai yang hidup dalam pola pikir, karakter, dan tindakan sehari-hari.

“Kuatkan iman, perkuat akhlak,” ujarnya tegas di hadapan peserta.

Beliau menjelaskan bahwa generasi Muslim hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Informasi yang tidak terverifikasi, konten provokatif, hingga narasi keagamaan yang cenderung ekstrem mudah diakses dan memengaruhi pola pikir remaja.

Karena itu, ada dua fondasi yang harus diperkuat yaitu prestasi dan akhlakul karimah.

Prestasi adalah bentuk kontribusi nyata dalam kompetisi global. Namun tanpa akhlak, prestasi dapat kehilangan arah dan nilai kemanusiaannya. Sebaliknya, akhlak tanpa kompetensi akan sulit memberikan dampak yang luas bagi masyarakat.

“Generasi Muslim harus unggul secara intelektual dan matang secara moral. Tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus benar,” tegasnya.

Dalam konteks kebangsaan, Prof. Fauzi menekankan bahwa moderasi beragama adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai warga negara. Indonesia berdiri di atas keberagaman. Jika generasi muda gagal memahami kebinekaan sebagai anugerah, maka potensi konflik akan selalu terbuka.

Beliau juga menyoroti pentingnya organisasi sebagai laboratorium kepemimpinan.

“Organisasi adalah kawah candradimuka para pemimpin. Di sana kalian belajar berdialog, belajar menerima kritik, belajar berbeda pendapat tanpa bermusuhan. Di situlah karakter ditempa.”

Menurutnya, organisasi seperti Rohis memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara semangat religiusitas dan komitmen kebangsaan. Keberagamaan yang matang akan melahirkan sikap tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (keadilan).

Tema seminar, lanjutnya, bukan hanya tentang menjaga iman, tetapi juga tentang merawat kebinekaan. Hubungan vertikal dengan Tuhan harus selaras dengan hubungan horizontal antar sesama manusia.

Ketua MUI Kabupaten Banyumas Drs. KH. Taefur Arofat, M.Pd.I dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas komitmen FTIK dalam memperkuat moderasi beragama di kalangan pelajar.

Ia menyebut aktivis Rohani Islam (Rohis) sebagai generasi pilihan yang memiliki tanggung jawab strategis dalam membangun ekosistem keagamaan yang sehat di sekolah.

“Kalau dalam negara ada Kementerian Agama, maka di sekolah Rohis memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan beragama,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa masa pelajar adalah masa pencarian jati diri. Dalam fase ini, remaja sangat mudah dipengaruhi oleh pemahaman yang sempit atau klaim kebenaran sepihak. Oleh karena itu, pemahaman Islam yang wasathiyah menjadi sangat penting.

Islam wasathiyah, jelasnya, adalah Islam yang berada di jalan tengah tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri. Islam yang mampu berdiri teguh pada prinsip, tetapi tetap terbuka terhadap dialog dan perbedaan.

Nilai tasamuh, tawazun, dan rahmatan lil ‘alamin harus menjadi karakter yang melekat dalam diri pelajar Muslim.

Prof. Dr. H. Subur, M.Ag. dalam materi penguatannya menegaskan bahwa keberagaman adalah sunnatullah. Indonesia sebagai bangsa yang majemuk tidak mungkin menghindari perbedaan.

“Perbedaan hanya akan bermuara pada dua hal: damai atau konflik,” ungkapnya.

Menurut beliau, moderasi beragama adalah strategi peradaban untuk memastikan perbedaan menjadi kekuatan kolektif. Penguatan moderasi telah menjadi program nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023.

Ia memaparkan empat indikator utama moderasi beragama:

  1. Komitmen kebangsaan
  2. Toleransi
  3. Anti-kekerasan
  4. Penerimaan terhadap tradisi lokal

Moderasi bukan kompromi terhadap akidah, melainkan cara beragama yang menghadirkan kemaslahatan umum, menjunjung tinggi keadaban, serta menjaga harmoni sosial.

Beliau juga menekankan pentingnya reformasi pendidikan sebagai instrumen utama dalam menanamkan cara pandang jalan tengah kepada generasi muda.

Seminar ini menjadi bagian dari langkah strategis FTIK dalam mewujudkan visi 2026 sebagai fakultas yang produktif dan berdampak.

Produktif dalam menghasilkan gagasan, karya ilmiah, dan lulusan yang kompeten.
Berdampak dalam membentuk karakter, kepemimpinan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Melalui penguatan moderasi beragama sebagai etos pelajar, FTIK tidak hanya mempersiapkan mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga menanamkan fondasi kepemimpinan yang inklusif dan berkeadaban. FTIK meyakini bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh indeks prestasi, tetapi oleh kualitas karakter. Tidak hanya oleh kecerdasan, tetapi oleh kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Dari ruang seminar inilah, FTIK menegaskan perannya sebagai kawah candradimuka lahirnya pendidik dan pemimpin masa depan yang beriman kuat, berakhlak mulia, moderat dalam beragama, serta kokoh dalam menjaga kebinekaan Indonesia. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi generasi yang bijak.