Dosen FTIK UIN Saizu Dikukuhkan sebagai Pujangga Keraton Surakarta, Tegaskan Sinergi Akademik dan Budaya Nusantara
19/01/2026 2026-01-19 22:17Dosen FTIK UIN Saizu Dikukuhkan sebagai Pujangga Keraton Surakarta, Tegaskan Sinergi Akademik dan Budaya Nusantara
Dosen FTIK UIN Saizu Dikukuhkan sebagai Pujangga Keraton Surakarta, Tegaskan Sinergi Akademik dan Budaya Nusantara
Purwokerto (19/01/2026) — Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Salah satu dosen FTIK, K.R.H.A. Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, mendapat amanah budaya sebagai Pengageng Kapujanggan atau Pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Amanah tersebut dikukuhkan dalam rangkaian agenda kebudayaan nasional yang berlangsung pada Minggu (18/1/2026), bertepatan dengan penyerahan keputusan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia terkait penguatan pelindungan dan pengelolaan kawasan cagar budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Momentum ini menandai komitmen negara dan keraton dalam menjaga kesinambungan warisan budaya Nusantara.
Penunjukan Dr. Dimas tidak terlepas dari konsistensinya sebagai akademisi yang menekuni kajian sastra, manuskrip klasik Jawa, serta pemikiran Islam Nusantara. Melalui aktivitas riset, publikasi ilmiah, dan penulisan esai kebudayaan, ia aktif menjembatani tradisi intelektual klasik dengan pendekatan akademik kontemporer.
Kontribusi keilmuan tersebut tercermin dalam karya akademiknya, termasuk disertasi doktoral yang mengkaji Serat Centhini sebagai sumber penting pemikiran pendidikan Islam Nusantara. Kajian tersebut memperlihatkan bagaimana teks klasik Jawa tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga memuat dimensi pedagogis, etika, dan spiritual yang relevan bagi pengembangan pendidikan saat ini.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Saizu Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menyambut positif amanah yang diterima oleh dosen FTIK tersebut. Menurutnya, pengukuhan ini menjadi bukti bahwa tradisi akademik di FTIK memiliki daya kontribusi nyata bagi kebudayaan bangsa.
“Ini menunjukkan bahwa dosen FTIK UIN Saizu tidak hanya berkiprah di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga hadir langsung dalam upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan Nusantara. Kampus harus menjadi ruang dialog antara ilmu, nilai, dan tradisi,” tegas Dekan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa capaian ini sejalan dengan visi FTIK dalam mengembangkan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai lokal, kebangsaan, dan keislaman yang moderat.
Kehadiran akademisi dalam struktur Keraton Kasunanan Surakarta diharapkan mampu memperkuat peran keraton sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan kebudayaan, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara institusi budaya dan perguruan tinggi. Bagi FTIK UIN Saizu, amanah ini menjadi penegasan bahwa perguruan tinggi keagamaan memiliki posisi strategis dalam merawat identitas dan peradaban bangsa di tengah tantangan zaman.