Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Kisah Inspiratif Wisudawan Terbaik FTIK UIN Saizu Purwokerto Periode ke-67

27a5fa0f-7860-41f2-9f71-98ab83d2423b
Berita

Kisah Inspiratif Wisudawan Terbaik FTIK UIN Saizu Purwokerto Periode ke-67

Purwokerto, 04 September 2025 – Wisuda bukan hanya seremoni akademik, tetapi juga momen penuh cerita perjuangan. Dalam Wisuda Periode ke-67 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) kembali menorehkan prestasi dengan menghadirkan wisudawan terbaik dari setiap program studi.

Ketika berbincang dengan mereka, satu hal yang terasa sama perjuangan panjang yang akhirnya terbayar dengan senyum bangga. Anteng, mahasiswi asal Banjarnegara dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), mengaku tidak pernah menyangka akan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik universitas. Dengan IPK 3,95 dan masa studi hanya 3 tahun 10 bulan, ia menegaskan bahwa kunci keberhasilannya adalah konsistensi. “Saya tidak pernah menargetkan harus jadi yang terbaik, hanya berusaha serius di setiap tugas. Alhamdulillah, hasilnya di luar dugaan,” ujarnya.

Bagi Anggiana, wisuda kali ini adalah hadiah terindah bagi orang tua. Lulusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) asal Purwokerto ini menyelesaikan studinya dalam 3 tahun 8 bulan dengan IPK 3,88. “Saya ingin membuktikan bahwa anak desa pun bisa bersaing. Doa ibu adalah energi terbesar saya,” tuturnya. Hijrah, mahasiswa asal Banyumas dari Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dikenal rajin membantu teman-temannya belajar. Dengan IPK 3,88, ia menegaskan bahwa prestasi bukan hanya untuk diri sendiri. “Saya ingin keberhasilan ini juga memotivasi teman-teman lain. Saling menguatkan itu penting,” katanya. Zulfa dari Prodi Tadris Bahasa Inggris (TBI) asal Cilacap menampilkan perpaduan antara disiplin belajar dan kemampuan bahasa. Ia menorehkan IPK 3,93. “Belajar bahasa itu proses panjang. Saya banyak belajar bukan hanya dari kelas, tapi juga dari komunitas,” ujarnya dengan senyum percaya diri. Bagi Indah, perjalanan kuliah di Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) adalah tentang ketekunan. Lulusan Banjarnegara ini meraih IPK 3,83. “Prestasi ini menjadi bukti dari kerja keras, ketekunan, dan doa. Semoga keberhasilan ini bisa menjadi inspirasi dan saya dapat terus berkontribusi positif di bidang akademik maupun masyarakat,” ucapnya. Lulusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) asal Banyumas, Dede Dyah Octavia, mengaku sempat kesulitan membagi waktu antara kuliah dan aktivitas organisasi. Namun ia tetap lulus dengan IPK 3,91. “Kuncinya adalah manajemen waktu. Saya belajar untuk tetap fokus meski banyak kegiatan,” ungkapnya. Diva, wisudawati asal Purwokerto dari Prodi Tadris Matematika (TMA), sukses menutup studi dengan IPK 3,83. Ia percaya bahwa matematika tidak hanya soal angka, tapi juga soal logika hidup. “Matematika mengajarkan kesabaran dan ketelitian. Itu yang saya bawa sampai sekarang,” jelasnya.

Para wisudawan terbaik ini adalah wajah baru kebanggaan FTIK. Mereka bukan hanya lulusan dengan IPK tinggi, tetapi juga sosok yang menorehkan cerita inspiratif di balik toga dan ijazah. Semangat mereka menjadi bukti bahwa FTIK konsisten melahirkan generasi unggul, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam karakter dan visi hidup.