FGD Renstra FTIK 2025: Mematangkan Arah Strategis Menuju LPTK Unggul dan Progresif
12/08/2025 2025-08-13 12:10FGD Renstra FTIK 2025: Mematangkan Arah Strategis Menuju LPTK Unggul dan Progresif
Purwokerto, 12 Agustus 2025 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 pada Selasa (12/8/2025) pukul 08.00–12.00 WIB di Meeting Room K.H. Abdul Wahid Hasyim. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menentukan arah kebijakan, program, dan pengembangan fakultas selama lima tahun ke depan.
FGD ini mengundang dua narasumber, yaitu Dr.Eng. Ir. Imam Tahyudin, M.M., dari Universitas AMIKOM Purwokerto, dan Luthfi Makhasin, S.IP., M.A., Ph.D., dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, yang dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, pejabat di lingkungan FTIK, para guru besar, tamu undangan, serta tim penyusun Renstra. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menjadi bukti keseriusan FTIK untuk melahirkan dokumen strategis yang bukan sekadar formalitas, melainkan peta jalan yang benar-benar membumi dan menjawab tantangan zaman.

Renstra FTIK 2025–2029 disusun dengan mengacu pada regulasi Kementerian Agama, Renstra UIN Saizu, dan dokumen regulasi pendidikan lainnya. Dalam sambutannya, Prof. Fauzi menegaskan bahwa visi Renstra FTIK adalah menjadi LPTK unggul dan progresif dalam pengembangan pendidikan Islam integratif demi menghasilkan lulusan berjiwa leadership–entrepreneurship pada tahun 2040. Pendidikan Islam integratif, kata beliau, bukan hanya memadukan berbagai disiplin ilmu, tetapi sudah sampai pada tahap interdisipliner dan transdisipliner. Artinya, kajian Islam di FTIK akan dihubungkan dengan isu-isu global seperti ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan hidup. “Bahkan pada prodi matematika, pendekatannya berbasis Qurani. Kita ingin seluruh kerja akademik memiliki napas integratif,” ujarnya.
Terkait karakter lulusan, FTIK telah merumuskan sembilan karakter leadership–entrepreneurship yang terpampang di dinding gedung fakultas. Karakter ini didasarkan pada pengamatan bahwa banyak lulusan FTIK berkiprah di luar sektor pendidikan. FTIK ingin mencetak lulusan yang mampu mengkreasikan dirinya, mengambil keputusan strategis, memanfaatkan peluang, dan mengantisipasi tantangan dengan kreatif dan inovatif.

Sesi materi diawali oleh Dr.Eng. Ir. Imam Tahyudin, M.M., yang membahas penetapan visi–misi fakultas, kriteria rumusan yang baik, dan tahapan penyusunan. Ia menekankan bahwa visi harus mampu menginspirasi dan memandu perubahan, sementara misi harus konkret, berbentuk tindakan, dan relevan dengan kebutuhan pemangku kepentingan.

Luthfi Makhasin, S.IP., M.A., Ph.D., pemateri kedua, mengulas konsep perencanaan strategis, perbedaan perencanaan strategis dan taktis, komponen utama seperti nilai inti, tujuan, KPI, strategi, dan rencana aksi. Ia juga memaparkan pentingnya alat analisis seperti SWOT, Root Cause Analysis, serta analisis risiko dan peluang, untuk memastikan strategi yang disusun adaptif dan siap menghadapi perubahan lingkungan.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan beragam gagasan kritis yang mengemuka dari para peserta. Prof. Dr. H. Rohmad, M.Pd. menekankan pentingnya integrasi governance, risk management, dan compliance dalam penyusunan Renstra, serta perlunya data pendidikan di wilayah Barlingmascakeb sebagai dasar pengukuran kebutuhan riil. Dr. Supriyanto mendorong agar visi–misi diformulasikan secara singkat dan jelas, disertai penambahan milestone capaian hingga tahun 2040. Sementara itu, Prof. Dr. H. Munjin, M.Pd.I. menyoroti urgensi penerapan risk management dalam layanan akademik guna mengantisipasi ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas. Pada kesempatan yang sama, Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., memaparkan data terkini terkait jumlah mahasiswa baru di setiap program studi, tantangan keterbatasan dosen, strategi penguatan jurnal agar dapat menembus indeksasi Scopus, serta rencana pembentukan laboratorium sekolah/madrasah. Peserta lain turut menambahkan masukan mengenai penguatan keterampilan tambahan bagi mahasiswa, pengabdian masyarakat yang relevan dengan kebutuhan, serta pengembangan kolaborasi strategis bersama mitra eksternal.

Beberapa isu penting yang mengemuka dalam FGD ini antara lain kebutuhan laboratorium sekolah/madrasah sebagai pusat riset dan pengembangan, serta penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja melalui pembekalan keterampilan tambahan seperti IT, bahasa asing, dan kompetensi lain di luar prodi. Selain itu, dibahas pula perlunya peta sebaran dosen untuk pemerataan beban kerja dan pengembangan SDM, serta penerapan konsep keberlanjutan lingkungan (sustainability) dalam kegiatan mahasiswa, salah satunya melalui gerakan 1000 pohon untuk sekolah dan madrasah.
FGD ini menandai tahap akhir sebelum pengesahan Renstra FTIK 2025–2029. Prof. Fauzi menegaskan bahwa dokumen ini adalah living document yang dapat direvisi sesuai perkembangan zaman, namun tetap menjadi pedoman bersama.
“Renstra ini adalah komitmen kita untuk membawa FTIK menjadi LPTK yang unggul, progresif, dan relevan. Kita ingin dokumen ini tidak hanya indah di atas kertas, tetapi benar-benar menggerakkan langkah kita,” pungkasnya.