Refleksi Ramadan di FTIK, Puasa sebagai Jalan Pengendalian Diri dan Penyucian Jiwa
20/02/2026 2026-02-20 23:15Refleksi Ramadan di FTIK, Puasa sebagai Jalan Pengendalian Diri dan Penyucian Jiwa
Purwokerto (20/02/2026) — Suasana Ramadan menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam bagi sivitas akademika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Dalam kajian bertajuk Ramadhan FTIK, Dr. M. Misbah, M.Ag. mengajak seluruh civitas akademika memaknai puasa bukan sekadar sebagai ibadah ritual, melainkan sebagai proses pendidikan diri yang menyentuh dimensi spiritual, moral, dan sosial.
Dalam penyampaiannya, Dr. Misbah menekankan bahwa puasa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. “Puasa adalah latihan pengendalian diri yang komprehensif. Kita dilatih untuk menahan amarah, menjaga lisan, mengontrol pikiran, serta menata perilaku agar tetap dalam koridor kebaikan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa pengendalian diri merupakan fondasi penting dalam membangun kepribadian yang matang. Seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan dorongan negatif akan lebih mudah menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks akademik, nilai ini menjadi sangat relevan, terutama bagi calon pendidik dan tenaga kependidikan yang dituntut memiliki keteladanan moral.
Lebih lanjut, Dr. Misbah menguraikan bahwa puasa juga merupakan proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Ramadan menjadi momentum membersihkan hati dari sifat-sifat yang merusak, seperti iri, dengki, sombong, dan egoisme. Melalui pembiasaan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seorang muslim sejatinya sedang ditempa untuk memperkuat kesadaran spiritual dan memperhalus nurani.
“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya, kita belajar kesabaran, keikhlasan, dan empati. Kita diajak merasakan bagaimana menahan diri, sehingga tumbuh rasa peduli terhadap mereka yang kekurangan,” tambahnya.
Dimensi sosial puasa juga menjadi sorotan dalam kajian tersebut. Ibadah ini tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat hubungan horizontal antar sesama manusia. Kesadaran akan penderitaan orang lain melahirkan solidaritas dan kepedulian sosial yang lebih tinggi. Nilai inilah yang selaras dengan semangat pengabdian dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dalam konteks FTIK, refleksi Ramadan ini diharapkan mampu memperkuat karakter akademik yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Integritas dalam penelitian, kejujuran dalam penilaian, kesabaran dalam membimbing mahasiswa, serta ketulusan dalam pengabdian kepada masyarakat menjadi wujud nyata implementasi nilai puasa dalam kehidupan kampus.
Ramadan juga menjadi momen evaluasi diri. Sivitas akademika diajak untuk tidak hanya meningkatkan kuantitas ibadah, tetapi juga kualitas sikap dan etika dalam berinteraksi. Puasa yang benar, sebagaimana disampaikan Dr. Misbah, adalah puasa yang meninggalkan bekas perubahan positif setelah Ramadan berakhir.
Kajian Ramadhan FTIK ini menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan pemurnian jiwa. Melalui semangat Ramadan, FTIK terus berkomitmen membangun insan akademik yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual.
Dengan demikian, Ramadan bukan hanya peristiwa tahunan yang berlalu tanpa makna, melainkan momentum transformasi diri membentuk pribadi yang lebih disiplin, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab dalam setiap peran yang diemban, baik sebagai pendidik, mahasiswa, maupun bagian dari masyarakat luas.