Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Pesantren di Era Global: FTIK UIN Saizu Gelar Refleksi Hari Santri Nasional!

DSC00156
Berita

Pesantren di Era Global: FTIK UIN Saizu Gelar Refleksi Hari Santri Nasional!

Purwokerto 22 Oktober 2025 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menggelar kegiatan Refleksi Hari Santri Nasional pada Selasa, 22 Oktober 2025, bertempat di Meeting Room K.H. A. Wahid Hasyim. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., Direktur Pascasarjana UIN Saizu sekaligus Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, selain itu beliau juga merupakan guru besar ilmu pendidikan islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang diundang sebagai narasumber utama. Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, perwakilan lembaga kemahasiswaan, serta mahasiswa di lingkungan FTIK.

Dalam sambutannya, Dekan FTIK, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menyampaikan rasa syukur atas kesempatan memperingati Hari Santri Nasional. Ia menegaskan bahwa momentum ini penting bagi FTIK karena pesantren merupakan embrio dari seluruh sistem pendidikan Islam di Indonesia.

“Refleksi Hari Santri ini menjadi bagian dari komitmen kita untuk memastikan bahwa eksistensi pesantren tetap terjaga. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan memiliki core keilmuan di bidang pendidikan Islam, maka sudah semestinya nilai-nilai pesantren menjadi ruh keilmuan kita, jadi anda sebagai mahasiswa fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan tentu harus mempelajari bagaimana cara memandang pendidikan nasional kita, pasti dari berbagai referensi anda akan menemukan jejak jejak historis tonggak tonggak fenomenal yang ditorehkan oleh pesantren dari bangunan bangsa ini” ujar Prof. Fauzi.

Beliau menambahkan bahwa dalam jejak keilmuan nasional, pesantren memiliki peran besar dalam lahirnya lembaga pendidikan tinggi Islam seperti IAIN, STAIN, dan UIN. Bahkan, nama ruangan tempat kegiatan berlangsung yaitu K.H. Abdul Wahid Hasyim merupakan penghormatan terhadap salah satu tokoh pesantren yang berkontribusi besar dalam sejarah panjang pendidikan Islam Indonesia.

“Banyak skripsi, tesis, dan disertasi di repository UIN Saizu yang membahas pesantren, terutama dari FTIK. Hal ini wajar karena karena memang salah satu bidang kajian Pendidikan keagamaan yang tidak bisa dilepaskan,” imbuhnya.

Dalam paparannya, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag. menyoroti bahwa pesantren kini menghadapi berbagai tantangan global, terutama dalam hal pelestarian nilai luhur, moralitas, dan independensi intelektual. Ia menilai, budaya modern sering kali didominasi oleh materialisme dan hedonisme yang dapat mengikis karakter santri.

Menurutnya, era digital juga membawa dampak signifikan terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Kemudahan akses informasi tanpa batas menyebabkan posisi strategis pesantren dan figur kiai menghadapi tantangan serius.

“Kita harus memanfaatkan media digital bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai washilah atau perantara dakwah profetik. Etika digital dan network etiquette harus menjadi pegangan, agar pesantren tetap relevan sekaligus menjadi penuntun moral masyarakat,” tegas Prof. Roqib.

Ia juga mengingatkan bahaya era post-truth, di mana emosi dan narasi sensasional sering kali lebih berpengaruh daripada fakta objektif. Kondisi ini, menurutnya, dapat menumbuhkan sikap ekstrem dan menurunkan daya kritis umat. Oleh karena itu, pesantren perlu memperkuat jati diri dan tradisinya sebagai benteng nilai dan akhlak bangsa.

Lebih lanjut, Prof. Roqib menegaskan pentingnya memperkuat identitas pesantren untuk membangun peradaban dunia. Ia mendorong agar santri dan civitas akademika terus mengembangkan potensi diri melalui karya ilmiah, kreativitas, dan jejaring sosial yang luas.

“Pesantren harus melahirkan super team yang berkomitmen tinggi terhadap nilai moral, spiritual, dan intelektual. Kita perlu memperluas jaringan dengan lembaga pendidikan, bisnis, maupun pemerintah agar pesantren dapat terus berperan aktif dalam pembangunan bangsa,” ungkapnya.

Kegiatan Refleksi Hari Santri Nasional ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa FTIK untuk memahami nilai-nilai pesantren dalam konteks kekinian. Nilai keilmuan, akhlak, dan spiritualitas yang diwariskan pesantren menjadi dasar penting dalam membangun budaya akademik FTIK yang religius, moderat, dan berwawasan global.

Melalui kegiatan ini, FTIK meneguhkan komitmennya untuk terus melestarikan nilai pesantren sebagai sumber pendidikan karakter, moral, dan keilmuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.