Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Modernitas Melindungi Tradisi

WhatsApp Image 2025-11-06 at 07.16.36
Dekan

Modernitas Melindungi Tradisi

Catatan Perjalanan di Guangzhou, China

Kamis, 06 November 2025 saya berkesempatan menyusuri jantung Kota Guangzhou, khususnya kawasan Beijing Lu (Beijing Road) salah satu pusat aktivitas masyarakat di malam hari. Kawasan ini menjadi tempat warga kota melepas penat setelah seharian bekerja seperti berbelanja, menikmati kuliner, bersantai, atau sekadar berjalan-jalan bersama keluarga dan teman.

Fenomena menarik tampak di sana. Di tengah kesibukan kehidupan perkotaan yang serba cepat dan cenderung individualis, ruang-ruang publik justru menjadi tempat perjumpaan sosial yang hangat. Pemerintah kota tampak memberikan perhatian besar terhadap penataan ruang publik yang luas, bersih, dan nyaman, memungkinkan warga berinteraksi dengan leluasa tanpa berdesakan. Pemandangan seperti ini menjadi contoh baik bagaimana tata kota modern dapat tetap memfasilitasi kehidupan sosial yang sehat, sesuatu yang sering kali sulit ditemukan di kota-kota besar lain termasuk di Indonesia.

Namun, di balik gemerlap modernitas dan hiruk-pikuk pusat bisnis, terdapat sisi lain yang tak kalah menarik. Di kawasan yang sama berdiri Dafo Anxian Temple, sebuah klenteng tua berusia lebih dari 1.700 tahun, dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Ketika saya memasuki area klenteng, tampak banyak anak muda melakukan ritual keagamaan dan persembahan sesuai keyakinan mereka. Mereka datang dengan pakaian kerja, seragam kuliah, atau pakaian santai, menandakan bahwa aktivitas spiritual masih menjadi bagian dari keseharian masyarakat modern Guangzhou.

Fenomena ini menyiratkan pesan penting: spiritualitas dan budaya tidak luntur oleh modernitas. Di tengah ritme kehidupan yang padat, manusia tetap membutuhkan ruang untuk menenangkan batin dan memperkuat nilai-nilai spiritual. Klenteng tua yang berdiri di tengah gedung-gedung pencakar langit itu menjadi simbol nyata keseimbangan antara kemajuan dan akar tradisi.

Dari pengalaman ini, saya menarik satu pelajaran berharga: modernitas yang sejati bukanlah yang menggilas tradisi, melainkan yang mampu melindungi dan memberi ruang bagi nilai-nilai budaya. Pembangunan dan kemajuan hendaknya tidak meniadakan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Dalam konteks kita di Indonesia, pesan ini menjadi sangat relevan. Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi dan budaya harus tetap dirawat sebagai sumber nilai, identitas, dan spiritualitas bangsa. Sebab, hanya dengan menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi, peradaban dapat tumbuh secara utuh maju tanpa kehilangan jati diri.