Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

“Kondangan akademik”: Fenomena Baru di Kampus yang Jadi Ruang Solidaritas dan Selebrasi Ilmu

WhatsApp Image 2025-11-26 at 10.47.54
Berita

“Kondangan akademik”: Fenomena Baru di Kampus yang Jadi Ruang Solidaritas dan Selebrasi Ilmu

Purwokerto – 26 November 2025, Di banyak sudut kampus, dalam beberapa bulan terakhir, ada pemandangan yang nyaris berulang seperti rutinitas tahunan. Mahasiswa berbondong-bondong datang, bukan untuk menghadiri konser, bukan pula untuk menyambut pejabat kampus. Mereka datang rapi sebagian berdandan lebih necis dari biasanya untuk merayakan sesuatu yang tampak sederhana, namun penuh makna. seminar proposal, ujian komprehensif, hingga munaqasyah teman satu angkatan.

Di beberapa fakultas, termasuk FTIK, fenomena ini mulai dianggap semacam “kondangan akademik”. Yang diuji menjadi seperti pengantin, duduk di depan dosen penguji, berdebar menunggu keputusan, sementara di luar ruangan, sahabat-sahabatnya menanti layaknya keluarga besar yang ikut mendoakan kelancaran prosesi. Setelah hasilnya diumumkan, tepuk tangan, pelukan, kadang air mata, menjadi satu bingkai emosional yang menghangatkan suasana kampus.

Fenomena ini muncul organik, tanpa komando dan tanpa edaran resmi. Di lorong-lorong kampus, kelompok mahasiswa berdatangan membawa semangat yang sama mendukung. “Ini bukan sekadar datang, tapi bentuk solidaritas,” ujar seorang mahasiswa Tadris. “Kita ingin hadir karena perjalanan akademik itu berat, dan setiap capaian teman adalah pengingat bahwa kita juga harus segera menyusul.”

Dalam gaya yang mirip pesta kecil, banyak yang menyebut kegiatan ini sebagai cara mahasiswa menciptakan ruang aman tempat belajar tidak hanya soal buku dan teori, tetapi juga tentang merayakan proses. Di tengah tekanan akademik, kehadiran teman dekat menjadi semacam penyangga mental yang membuat dunia kampus terasa lebih manusiawi.

Di sisi lain, “kondangan akademik” ini juga menumbuhkan motivasi kolektif. Melihat teman berhasil menutup laptop seusai munaqasyah, atau keluar dari ruang sidang komprehensif dengan wajah lega, menjadi semacam alarm lembut yang mengingatkan mahasiswa lain pada kewajiban akademik mereka sendiri. “Kalau dia bisa, aku juga bisa,” begitu kira-kira mantra yang bergema diam-diam di benak para pendamping tidak resmi itu.

Namun, lebih dari itu, fenomena ini menjelma sebagai identitas baru mahasiswa: mereka hadir bukan karena kewajiban institusi, melainkan karena kedekatan emosional sebagai sesama pejuang skripsi. Kampus menjadi semacam ruang sosial yang hidup tempat dualisme antara cemas dan bangga, gugup dan bahagia, tumpah menjadi satu.

Sebagian dosen menyebut gejala ini sebagai pemandangan positif. Tidak sedikit yang membatin bahwa dukungan horizontal antar-mahasiswa adalah energi yang tak bisa disediakan oleh kurikulum mana pun. Sebuah kultur yang tumbuh dari bawah, lahir dari empati akademik yang jarang menjadi sorotan.

Mungkin, suatu saat nanti, “kondangan akademik” ini bukan lagi sekadar fenomena, melainkan tradisi kampus yang perlu dirawat. Selain menjadi selebrasi kecil, ia adalah monumen solidaritas yang mengajarkan: di balik gelar akademik, selalu ada cerita perjuangan yang diperjuangkan bersama-sama.