Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

FTIK UIN Saizu Gelar FGD Penyusunan Renstra Pengabdian: Wujudkan Program yang Terukur, Berdampak, dan Berkelanjutan

DSC09569
Berita

FTIK UIN Saizu Gelar FGD Penyusunan Renstra Pengabdian: Wujudkan Program yang Terukur, Berdampak, dan Berkelanjutan

Purwokerto 4 November 2025– Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri Purwokerto menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Pengabdian pada masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Rapat K.H.A. Wahid Hasyim yang menghadirkan sejumlah pimpinan universitas dan fakultas, para guru besar, serta dosen dari berbagai program studi di lingkungan FTIK.

FGD ini menjadi forum strategi untuk memperkuat arah pengabdian kampus agar lebih terarah, terukur, dan selaras dengan visi baru UIN Saizu Purwokerto sebagai universitas berbasis integrasi keilmuan dan keislaman.

Dalam berbagai hal, Dekan FTIK Prof. H. Fauzi, M.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penataan visi dan misi fakultas serta program studi yang kini berorientasi pada paradigma baru. 
Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat bukan sekedar pelaksanaan kegiatan sosial, tetapi merupakan bagian integral dari hasil penelitian dan pengajaran. “Kita ingin setiap dosen dan prodi memiliki roadmap penelitian dan pengabdian yang jelas, berdasarkan keilmuan dan keahlian masing-masing. Tridarma harus dikecualikan, bukan dipisahkan,” tegasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa penguatan dokumen Renstra menjadi penting dalam menghadapi proses akreditasi dan instrumen baru yang akan segera diluncurkan oleh BAN-PT. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga strategis untuk memperkuat mutu akademik fakultas.

Prof. Dr. H. Suwito, M.Ag., selaku Wakil Rektor I UIN Saizu dalam Segalanya tekanan pentingnya Renstra yang visioner, sebagaimana dicontohkan dalam kisah Nabi Yusuf AS yang mampu merancang analisis masa depan dengan mendalam terhadap kondisi saat itu.
Ia menekankan bahwa pengabdian adalah kegiatan yang luhur, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, yakni amal yang membawa kemaslahatan bagi umat. “Aktivitas pengabdian bukan sekedar formalitas, tetapi wujud nyata kepedulian dan pemberdayaan masyarakat. Orientasinya tetap lillāh, untuk Allah SWT,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparan, Prof. Suparjo menjelaskan bahwa Renstra Pengabdian FTIK diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antarprodi dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Terdapat delapan tema pengabdian utama yang dikembangkan, di antaranya:
1. Pemberdayaan berbasis satuan pendidikan.
2. Pemberdayaan berbasis pesantren.
3. Pemberdayaan berbasis masjid.
4. Pemberdayaan desa mitra.
5. Pemberdayaan komunitas dan ormas keagamaan.
6. Pemberdayaan gender dan anak.
7. Pengabdian berbasis karya ilmiah dosen.
8. Pemberdayaan berbasis pendidikan tinggi dan perguruan.

Setiap program studi akan menurunkan tema ini ke dalam fokus pengabdian yang sesuai dengan bidang keilmuannya, misalnya PAI fokus pada pendidikan keagamaan, PGMI pada penguatan teknologi informasi di madrasah, dan Tadris Matematika pada pengembangan media pembelajaran berbasis numerik.

Prof. Dr. Mufidah, M.Ag., guru besar dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, memberikan masukan konstruktif mengenai pentingnya pengabdian yang berbasis penelitian dan memiliki hasrat. Ia mencontohkan praktik family corner berbasis masjid yang dikembangkannya di Malang sebagai model integrasi antara penelitian, pengajaran, dan pengabdian.
“Program yang bagus dimulai dari analisa kebutuhan, disesuaikan dengan regulasi, potensi daerah, dan strategi kemitraan. Jangan hanya seremonial, pengabdian harus punya indikator capaian yang jelas dan dampak sosial yang nyata,” ujarnya.

Beliau juga menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa melalui skema service learning atau KKN mandiri agar pembelajaran di kelas berkelanjutan dengan aktivitas di masyarakat.

Dalam sesi diskusi, Prof. Asdlori menyoroti pentingnya pengabdian yang memiliki daya ungkit terhadap kesehatan mental generasi muda. “Realitas saat ini menunjukkan banyak mahasiswa kehilangan semangat belajar. FTIK harus menjadi pelopor dalam menumbuhkan kesehatan mental dan spiritual sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan perlunya Renstra yang spesifik per jurusan, agar tema pengabdian lebih mengena dan sesuai karakter keilmuan masing-masing.

Sementara itu, Dr. Sudiro menambahkan perlunya strategi pendanaan yang terarah. Ia menjelaskan bahwa hubungan pendanaan dapat dikembangkan dari berbagai sumber yaitu baik APBN melalui universitas, APBD melalui kemitraan dengan pemerintah daerah, maupun dukungan masyarakat.

FGD ini menghasilkan beberapa poin penting, antara lain perlunya indikator ketercapaian pengabdian, integrasi dengan penelitian dan pembelajaran di kelas, serta pembentukan tim lintas prodi yang melibatkan dosen senior dan muda.