Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Belajar Ketangguhan dari Siti Hajar, Dr. Maria Ulpah Ajak Civitas FTIK Maknai Ramadhan dengan Ikhtiar dan Tawakal

Screenshot (107)
Berita

Belajar Ketangguhan dari Siti Hajar, Dr. Maria Ulpah Ajak Civitas FTIK Maknai Ramadhan dengan Ikhtiar dan Tawakal

Purwokerto (25/02/2026) – Momentum Ramadhan kembali dimaknai secara mendalam oleh keluarga besar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Melalui program Ramadhan FTIK, dosen FTIK, Dr. Maria Ulpah, M.Si., menyampaikan refleksi spiritual bertajuk “Belajar dari Siti Hajar” yang mengajak civitas akademika meneladani ketangguhan, keimanan, dan ikhtiar seorang perempuan agung dalam sejarah Islam.

Dalam pemaparannya, Dr. Maria menyoroti kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim dan ibu Nabi Ismail, sebagai figur perempuan yang menunjukkan kualitas iman dan keteguhan luar biasa di tengah ujian berat kehidupan. Ketika ditinggalkan di lembah tandus atas perintah Allah bersama putranya yang masih bayi, Siti Hajar tidak larut dalam keputusasaan. Sebaliknya, ia mempertanyakan dengan keyakinan, “Apakah ini perintah Allah?” dan ketika diyakinkan demikian, ia pun menjawab dengan penuh tawakal bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka.

“Kisah Siti Hajar bukan hanya cerita sejarah, tetapi pelajaran tentang iman yang hidup, iman yang melahirkan keberanian, dan iman yang mendorong usaha,” ungkap Dr. Maria dalam refleksinya.

Salah satu bagian penting yang ditekankan adalah peristiwa larinya Siti Hajar antara Bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya. Tindakan ini kemudian menjadi dasar ibadah sa’i dalam rangkaian haji dan umrah. Dalam kondisi yang secara logika tampak mustahil, Siti Hajar tetap bergerak, berikhtiar, dan berdoa. Hingga akhirnya, pertolongan Allah hadir melalui pancaran air Zamzam yang menjadi sumber kehidupan hingga kini.

Menurut Dr. Maria, peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak datang pada sikap pasif, melainkan pada hamba yang menggabungkan doa dengan usaha maksimal.

“Ramadhan adalah bulan latihan. Latihan menahan diri, latihan sabar, dan latihan ikhtiar. Siti Hajar mengajarkan kepada kita bahwa tawakal bukan berarti diam, tetapi terus bergerak dalam keyakinan,” jelasnya.

Dalam konteks kehidupan kampus, pesan ini menjadi sangat relevan. Civitas akademika FTIK diingatkan bahwa proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian sering kali diwarnai tantangan. Namun, sebagaimana Siti Hajar yang tidak menyerah pada kondisi, mahasiswa dan dosen pun dituntut untuk tetap berusaha dengan penuh integritas dan optimisme.

Nilai ketangguhan Siti Hajar juga menjadi simbol kekuatan perempuan dalam Islam. Dr. Maria menekankan bahwa kisah tersebut menunjukkan bagaimana perempuan memiliki peran sentral dalam membangun peradaban, dimulai dari keteguhan iman dalam keluarga hingga kontribusi yang berdampak luas bagi umat.

Pesan utama yang mengemuka dari refleksi tersebut adalah pentingnya keseimbangan antara iman, usaha, dan doa. Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, tetapi momentum untuk memperbarui semangat, memperkuat kesabaran, dan meneguhkan komitmen dalam menjalani peran masing-masing.

Menutup kajiannya, Dr. Maria mengajak seluruh civitas akademika FTIK untuk menjadikan kisah Siti Hajar sebagai inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan.

“Setiap kita pasti memiliki ‘lembah tandus’ dalam hidup. Namun, selama kita yakin pada pertolongan Allah dan terus berikhtiar, insyaAllah akan ada ‘Zamzam’ yang Allah hadirkan,” pesannya.

Melalui refleksi ini, Ramadhan di lingkungan FTIK tidak hanya menjadi momentum ibadah personal, tetapi juga sarana memperkuat karakter, spiritualitas, dan semangat perjuangan dalam membangun generasi pendidik yang tangguh dan berintegritas